Jasa Jemputan Karyawan Perkebunan

Pertama kali terpikirkan tentang ini ketika saya sedang berjalan-jalan ke perkebunan teh di wilayah Lembang, Bandung. Di sana, saya melihat beberapa truk sedang menurunkan puluhan orang yang akan memanen pucuk daun teh. Dari sini otak duit mulai berputar. Apakah itu gratis atau berbayar? Siapa yang punya mobil-mobil truk itu? Apakah ada jasa jemputan karyawan perkebunan?
Saya kemudian mencari tahu. Mulailah saya mengobrol dengan orang-orang pekerja itu. Walaupun sebelumnya  tidak kenal, saya tanya-tanya saja apa ada semacam jasa jemputan karyawan perkebunan buat mereka? Saya mah memang begitu orangnya.  Suka ingin tahu dan penasaran. Kalau sudah penasaran, saya langsung tanya saja ke yang bersangkutan. Daripada saya mati penasaran. Ya, nggak?


Karyawan Perkebunan Itu Unik

Tapi sebelumnya, saya mau menjelaskan, ternyata karyawan perkebunan ini unik, guys. Jadi, pertama, mereka tidak bisa disebut karyawan juga sebenarnya. Karena, tidak pernah ada kontrak pekerja antara perusahaan dengan mereka. Apa yang terjadi adalah situasi jual-beli, dimana mereka dibayar berdasarkan hasil yang mereka dapatkan. Mungkin lebih ke outsourcing, tapi non formal karena tidak menggunakan deal surat-menyurat. Adapun saya menyebut mereka sebagai karyawan perkebunan, ya supaya memudahkan menulis artikel jasa jemputan karyawan perkebunan ini saja.
Tapi itu di perkebunan teh ya. Saya kurang tahu juga kalau di perkebunan semacam sawit, kopi, atau karet. Karena karakteristiknya  mungkin agak berbeda. Jadi bisa saja ada semacam kontrak pekerja di sana. Entah kalau jasa jemputan karyawan di perkebunan komoditas ekspor semacam itu. Sangat mungkin juga ada.
Nah, kembali ke pekerja perkebunan teh tadi. Setelah saya tanya-tanya, rupanya mereka tidak membayar jasa angkutan truk tadi, guys. Jadi truk tadi bukan milik jasa jemputan karyawan perkebunan manapun, melainkan punya perusahaan yang dipinjamkan. Jadi mereka menumpang saja ketika berangkat ataupun pulang, tidak perlu bayar.
Tapi ya tergantung yang punya  perusahaan juga sebenarnya. Karena kata supirnya, di tempat lain ada juga yang suruh bayar. Ya namanya juga yang punya armada, suka-suka mereka saja. Mau digratiskan atau disewakan siapa yang mau melarang. Mau bikin jasa jemputan karyawan bagi pekerja perkebunan mereka sendiri juga tidak jadi soal kan?

Potensi  Jasa Jemputan Karyawan Perkebunan

Kesimpulannya dari hasil ngobrol-ngobrol itu, guys, sepertinya peluang membuka usaha jasa jemputan karyawan perkebunan sangat tipis. Apalagi bagi orang luar daerah. Pertama, karena biasanya armada antar-jemput ini sudah disediakan oleh si pemilik lahan atau perusahaan perkebunan itu sendiri. Lagipula ini bukan trayek  umum, tapi area si pemilik lahan. Boro-boro bisa dapat tarikan, ada juga dipajakin kita kalau maksa lewat sana.
Yang kedua, pekerja perkebunan itu sendiri biasanya tidak bayar, guys. Alias gratis. Lah kalau biasanya tidak bayar lalu kita coba-coba buat jasa jemputan karyawan disana, siapa yang mau pakai jasa kita? Ada juga juga diketawai mungkin. Lagipula, penghasilan pekerja perkebunan tersebut juga  sangat tipis. Orang mereka dibayarnya bukan per kilo lagi, tapi per keranjang. Itupun dengan harga cukup murah.
Jadi, kalau sempat punya wacana buat bikin jasa jemputan karyawan perkebunan, lebih baik mikir lagi 1000 kali. Karena nggak ada kelihatan untungnya. Malah kelihatan ribetnya. Walaupun karakteristik pekerjanya  sebenarnya mirip-mirip karyawan pabrik, tapi secara kultur kerja, nggak bisa masuk. Dan kalau dipaksakan juga, hasilnya malah tambah rumit. Bisa-bisa bukannya untung malah buntung.

0 Response to "Jasa Jemputan Karyawan Perkebunan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel